Banyak pengembang properti pemula tertipu oleh angka penjualan yang tinggi di pembukuan, namun dalam waktu bersamaan mereka kesulitan membayar tagihan sub-kontraktor. Mengapa hal ini bisa terjadi? Jawabannya adalah pengelolaan cashflow (arus kas) yang buruk. Dalam bisnis properti, uang masuk (cash-in) dari konsumen KPR maupun cicilan bertahap tidak terjadi sekaligus, melainkan tersebar dalam termin-termin waktu tertentu. Tanpa adanya sistem proyeksi target penerimaan kas yang akurat, pengembang akan sering mengalami mismatch keuangan—di mana pengeluaran proyek berjalan lebih cepat daripada penerimaan uang dari konsumen.
Standarisasi Akuntansi Properti Secara Otomatis
Selain mengontrol arus kas masuk dan keluar, perusahaan developer dituntut untuk menyajikan laporan keuangan (Neraca dan Laba/Rugi) yang sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) properti yang berlaku di Indonesia. Menyusun laporan ini secara manual menggunakan rumus excel umum sangat rentan terhadap kesalahan input data (human error).
Guna membantu manajemen mengambil keputusan strategis berdasarkan visualisasi grafik data yang valid, implementasi software khusus properti seperti ECes atau Porta Pro menjadi investasi wajib. Software ini mengotomatiskan pencatatan jatuh tempo pembayaran, kalkulasi denda keterlambatan secara sistemik, pembentukan jurnal otomatis, hingga penyusunan laporan keuangan konsolidasi hanya dengan beberapa klik. Rincian fungsionalitas modul keuangan dan akuntansi otomatis ini tersedia secara transparan untuk Anda pelajari di Halaman Fitur Media Sarana.
Sistem pencatatan kas otomatis yang mapan ini akan menjamin stabilitas internal operasional Anda tetap berdiri teguh, terlepas dari guncangan kebijakan perbankan eksternal semisal lonjakan bunga akibat dampak kenaikan BI Rate properti 2026.








